Berita Terbaru

12 Mei 2009

Pemerintah Batal Tarik Pinjaman Siaga

Karena surat utang negara (SUN), baik di dalam maupun luar negeri, laku keras, Pemerintah akhirnya batal menarik pinjaman siaga alias standby loan tahun ini. Hingga akhir bulan lalu, Pemerintah sudah meraup duit Rp 58,1 triliun dari SUN.

Dus, Pemerintah sudah melampaui target penerbitan SUN di APBN Penyesuaian 2009, sebesar Rp 54,7 triliun. "Kami sudah mendapatkan sumber pembiayaan untuk menutup defisit lewat surat utang negara. Maka, kami tak akan mengambil standby loan. Sebenarnya sayang," kata Direktur Pembiayaan Multilateral Bappenas Dewobroto Joko Putranto.

Saat ini, Pemerintah telah mengantongi komitmen standby loan sebesar 2,5 miliar dollar AS dari total rencana 5,5 miliar dollar AS. Komitmen itu berasal dari Bank Dunia sebesar 2 miliar dollar AS dan Bank Pembangunan Asia (ADB) 500 juta dollar AS.

Meski tidak jadi menarik standby loan, bukan berarti Pemerintah bebas dari pungutan. Dewobroto bilang, Pemerintah tetap terkena biaya komitmen yang besarnya 0,15 dollar AS per tahun dari nilai total pinjaman siaga.

Kendati demikian, kalau sampai tahun depan pemerintah tak juga perlu menarik standby loan, Pemerintah tetap akan memperpanjang waktu pinjaman. "Syarat dan kondisinya tetap sama. Untuk ADB, LIBOR plus 0,2 persen dan itu sangat murah dibanding bunga pasar," ujar Dewobroto.

Data Departemen Keuangan menyebut, Pemerintah sudah menerbitkan surat berharga negara mencapai Rp 960,7 triliun atau meningkat Rp 308,7 triliun ketimbang tahun 2000 lalu. Jumlah ini akan bertambah lagi. Selasa (12/5) ini, Pemerintah kembali menjual obligasi dengan target indikatif Rp 2 triliun.

Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis meminta Pemerintah seimbang dalam memilih sumber pembiayaan defisit anggaran yang tahun ini mencapai Rp 139,5 triliun. "Harus ada balance antara loan dan obligasi," kata Harry. Apalagi, bunga standby loan masih lebih rendah daripada bunga surat utang.

Sumber: Kompas.Com

LPS Tentukan Bunga Simpanan

Bunga simpanan bisa rontok lagi. Hari ini, Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) kembali menggelar rapat penentuan bunga yang wajar untuk simpanan.

Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani tak berani memastikan rapat bakal berujung ke pemangkasan bunga penjaminan simpanan. "Apakah bunga penjaminan akan turun atau tetap, tunggu saja. Yang menentukan bunga itu ada enam orang, bukan saya sendiri," katanya.

Namun, biasanya rapat LPS yang berlangsung di luar jadwal reguler akan menghasilkan pemangkasan bunga penjaminan. Sekadar mengingatkan, dalam aturan LPS, rapat penentuan bunga penjaminan digelar setiap empat bulan sekali. Dan, rapat terakhir LPS berlangsung April lalu.

Firdaus mengakui respons perbankan untuk menurunkan bunga kredit masih sangat lambat. Namun, dia berharap perbankan mulai merespons penurunan bunga penjaminan. "Kondisi likuiditas perbankan saat ini sudah bagus," ujar Direktur Eksekutif LPS Firdaus Djaelani, Senin (11/5).

Analis perbankan dari Mandiri Sekuritas Mirza Adityaswara mengakui, likuiditas memang sudah longgar. Mirza juga memprediksi, LPS bakal menurunkan bunga penjaminan di bulan ini. "Seharusnya segera turun lagi," kata Mirza.

Jika bunga penjaminan turun, otomatis bunga simpanan merosot. Namun, kendati biaya dana turun, bank tak bisa seketika menyesuaikan bunga kredit. "Masih ada risiko penyaluran kredit yang terus meningkat. Ini terlihat dari terus melonjaknya angka non-performing loan (NPL) perbankan," tambah dia.

Bank Indonesia (BI) mencatat rasio NPL terus naik di kuartal pertama. NPL yang masih sebesar 3,59 persen di akhir Januari, telah naik mencapai 3,93 persen di akhir Maret. BI juga mencatat per akhir Maret 2009, ada 22 bank yang memiliki NPL lebih dari 5 persen.

Namun, Mirza yakin bank akan menurunkan bunga kredit secara bertahap. "Penghasilan bank dari kredit. Kalau tidak, dari mana bank bisa membayar gaji," katanya

Daftar Bank Terbesar Versi BI

Selasa, 12 Mei 2009 | 11:01 WIB

Bank Indonesia (BI) merilis daftar 10 bank terbesar di Indonesia berdasarkan nilai aset, kemarin (11/5). Berlandaskan data Maret lalu, ada beberapa bank yang mengalami pergeseran posisi.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), misalnya, nangkring di posisi kedua menggeser posisi PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Sebelumnya, BCA selalu menduduki peringkat kedua. Namun pada akhir Maret 2009, aset BRI melonjak melebihi BCA.

Pertukaran posisi juga menimpa PT Bank Permata Tbk dan Citibank. Adapun Standart Chartered harus tersingkir dari daftar dan memberi jalan bagi Bank Internasional Indonesia (BII) masuk lagi, setelah tergusur bulan lalu.

Direktur Utama PT BRI Tbk Sofyan Basir mengatakan, naik turun aset merupakan hal biasa bagi bank. Ia mencontohkan, setiap awal tahun aset BRI turun karena ada penarikan Dana Pihak Ketiga. Tetapi di bulan Maret dana-dana itu kembali masuk.

Kepala Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, daftar BI itu bisa menjadi indikator agresivitas bank dalam menarik dana pihak ketiga dan menyalurkan kredit. " Dari daftar itu tampak saat ini BRI yang paling agresif," katanya. (Dyah Megasari, Arthur Gideon/Kontan)

Daftar Bank berdasarkan aset pada Maret 2009 (dalam triliun rupiah)


Nama Bank Total aset
1. PT Bank Mandiri Tbk 328,01
2. PT BRI Tbk 250,54
3. PT BCA Tbk 247,61
4. PT BNI Tbk 198,92
5. PT Bank Danamon Tbk 102,98
6. PT Bank CIMB Niaga Tbk 74,48
7. PT Pan Indonesia Bank Tbk 68,14
8. Citibank NA 55,49
9. PT Bank Permata Tbk 54,37
10 PT BII Tbk 53,09


Sumber: JAKARTA, KOMPAS.com